Popular Posts
  • 6 Kota/ Kabupaten di Indonesia yang di juluki VAN JAVA
  • SELAMAT UJIAN
  • Profil Mahasiswa Program Beasiswa TPL IKM APP Kementerian Perindustrian RI
  • Kksk
  • CERITA TENTANG SI KUCING JELEK!
  • Giochie
  • Nada dan Syiar Indosiar LIVE di Pemda Kabupaten Tasikmalaya
  • SURAT TERBUKA -1
  • Adam Lambert - Time For Miracle
  • Pendaki [Lain] Film Pendek

Jumat, 13 November 2015

Dalam senyap antara doa dan air mata
 Embun sepertiga malam yang memuai
 Suara rintihanku dalam doa
 Indahkanlah Tuhan, perasaan mulia ini

Rasa yang mungkin dulu nafsu
 Akhirnya kini berubah rindu
 Nafaskupun mengucapkan nama
Di dalam hati ini,
 AnugerahMu bernama Cinta yang tak bisa kufahami

Cinta bersemi tumbuh dan terawat dalam keikhlasan
Menjalar dan terucap dalam doa
Cinta bak pena dengan tinta emas
Melukis indahnya dalam kertas
Menuliskan bait, irama dan nama
Padukanlah Tuhan, insan ini

Rabu, 06 Mei 2015

Adik tingkatku di kampus tiba-tiba memberikanku amplop putih besar, aku lihat terdapat inisial DR didepannya. Aku langsung tahu pengirim surat ini, mungkin ditulisnya dan dititipkan lewat kawan sekelasnya.

Aku berjam-jam dibuat bahagia dan tersipu membaca isinya, sama sekali tidak seperti saat kita mengobrol. Dia begitu renyah dan santai dalam suratnya. Tingkat kekagumanku seketika bertambah padanya.

Setelah hanyut dalam suratnya berjam-jam, aku mengambil HP dan memotret sampul amplop bertuliskan inisial DR dan aku post pada Instagram.

Aku menuliskan judul "Karena tulisan dalam kertas tidak akan tergantikan"

Beberapa menit kemudian aku dapat notifikasi dari Instagram. Emoticon smile dalam komentar dari akun bernama Desi Randa Efendi.

Aku tersipu dan mimpi indah setelahnya.

FlashFiction dalam rangka lomba di #FF2in1 di nulisbuku.com di Facebook dan Twitter

Sabtu, 14 Maret 2015

Beberapa hari ini adalah hal tersulit yang aku lalui, aku telah menentukan hal terumit dalam hidup ini, hal yang bahkan tidak pernah aku harapkan bisa aku ucapkan melalui kata-kata dan tulisan tangan. Namun waktu selalu memiliki jawaban atas segala pertanyaan tersulit sekalipun, aku benar-benar tidak bermaksud untuk mempermainkan perasaannya yang lembut dan indah, tidak juga bermaksud menyisakan kenangan buruk untuknya. Bagiku, menggapainya dan mendapat kepercayaan darinya adalah anugerah yang besar dalam hidupku, aku memang pengecut setiap hari hidup dalam ketakutan dan kesedihan, takut tidak bisa menggapainya. Aku selalu bersenandung lagu Kang Aden (Almarhum) Duhai Pendampingku.

"Di hatimu tersimpan cinta yang suci
Serta mendalam pernikahan dari beda dunia
Meski kau terbiasa hidup tanpa perih
Namun kau ikhlas hidup bersahaja
Namun bahagia

Duhai pendampingku, akhlakmu permata bagiku
Buat aku makin cinta
Tetapkan selalu janji awal kita bersatu
Bahagia sampai ke surga

Maafkan aku jika tak bisa sempurna
Karena ku bukan lelaki yang turun dari surga
Ketulusan hatimu anugerah hidupku
Doakan langkah kita tak berpisah
Untuk selamanya
"

Aku telah terlena dengan kalimat indah itu, aku harus bisa menyadari kalimat itu untuk sebuah cinta yang telah halal, cinta yang telah diridhoi Allah. Bukan seperti aku yang bahkan menemuinya saja tidak bisa, bahkan berkomitmen saja sulit. 

Masalah pada awal tahun ini juga sangat banyak mendera, seperti hujan yang deras. Seperti tanah hatiku yang melubang oleh terpaan hujan dari atas genting. Aku benar-benar sangat lemah.

Untuk kamu yang selalu aku titipkan rindu melalui Allah, maafkan aku ya~ Semoga dengan rasa sakit yang aku torehkan kamu bisa menjadi wanita yang lebih tegar. Percayalah, aku akan mendapatkan karma atas segala tindakan buruk terhadapmu. Semoga kelak ada pria yang sangat baik yang bisa mencintaimu lebih tulus, memberikan bunga mawar yang diberikan saat makan malam disuatu tempat yang romantis atau mengajakmu melantai berdansa seperti kegemaranmu, seperti yang aku ketahui kamu sangat menyukai menari. 

Kamu yang lembut jiwanya, aku percaya Allah selalu memiliki rencana yang baik untuk kita.

~To be continued